Pengurus HMI MPO Komisariat FE UII

" Ketua Umum : Idham Hamidi Sekretaris Umum : M.Arief Sukma Aji Wakil Sekretaris Umum : Geladis Fertiwi Bendahara Umum : Dovy Pradana Purnamawulan Kanit Keislaman : Agus Faryandi Kanit Pelatihan : Mujahid Musthafa Kanit Kajian dan Penlitian : Firzan Dwi Chandra Kanit Kewirausahaan : Muhammad Yadin Kanit PTKPJ : Teguh Hardityo Baskoro Kanit Pers dan Media Informasi : Egy Prastyo
Sabtu, 12 Januari 2013

PEMUDA GARUDA


ANTARA KEBANGGAAN, KEPEDULIAN DAN HASRAT DALAM MEMBANGUN BANGSA

Oleh : Bayu seto

            Nusantara, atau saat ini lebih dikenal dengan nama Indonesia. Sebuah dataran yang tercipta dengan sangat menakjubkan oleh sang pencipta, dimana didalamnya dianugerahi tuhan dengan berbagai macam keindahan yang terpancar dari alamnya yang berupa daratan dan lautan. Alam yang tak hanya memperlihatkan keagungan tuhan dalam memenuhi kebutuhan makhluknya akan keindahan, tetapi juga memenuhi kebutuhan makhluknya untuk hajat hidupnya. Tapi, apakah negara ini mengandalkan sumber daya alam ini sebagai elemen terpenting untuk menjamin dan memenuhi keberlangsungannya? Saya rasa tidak berlebihan jika jawabannya adalah “TIDAK”. Ada sebuah elemen lagi yang merupakan salah satu bagian terpenting dalam menjalankan negara ini. Elemen inilah yang yang dapat menjaga elemen lainnya di negeri Indonesia ini, elemen yang diberikan anugrah berupa keleluasaan oleh Tuhan untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Elemen yang dapat memberi pengaruh besar bagi pembangunan bangsa. Elemen itu bernama manusia. Tidak, tidak, rasanya lebih tepat kalau kita menyebutnya sebagai PEMUDA.
Pemuda, rasanya tidak salah jika menyebut elemen ini sebagai yang terpenting dalam membangun bangsa ini. Mereka (para pemuda) diberikan sebuah “hadiah yang sangat berharga” oleh Tuhan yang terdapat pada diri mereka, “hadiah” itu adalah pikiran dan dilengkapi oleh nafsu dan akal. Atribut yang jelas tidak diberikan terhadap makhluk ciptaan lainnya.
Dalam membangun bangsa ini, campur tangan pemuda tak bisa, atau bisa dikatakan tidak boleh dipisahkan dalam sejarah nusantara ini. Para pemuda, pada saat itu memiliki peran yang sangat besar dalam “peresmian” hari kemerdekaan bangsa ini. Pada saat itu, para pemuda memiliki sesuatu, yang bisa dikatakan, saat ini hanya segelintir pemuda yang memilikinya, hal itu adalah “SEMANGAT NASIONALISME”. Sebuah hal yang yang dapat menciptakan energi yang entah dari mana datangnya. Kemudian lahirlah sebuah lambang negara yang sangat filosofis, sebuah lambang yang dapat menggambarkan negara ini, bukan hanya dari nilai-nilai dasarnya, tetapi juga karakter hingga segala hal yang menjadi cita-cita para pendiri bangsa ini. Hal ini dapat dilihat dari segala atribut yang terdapat pada lambang burung garuda tersebut, mulai dari lambang Burung Garuda itu sendiri yang melambangkan kekuatan alami yang berasal dari penciptanya, kemudian fisiknya, yaitu bulu yang menandakan hari kelahiran bangsa Indonesia, lalu perisai yang dihiasi dengan lambang-lambang yang melambangkan dasar negara Indonesia, kemudian pita yang melambangkan Bhinnka Tunggal Ika, yang merupakan ciri khas dari bangsa Indonesia. Lantas pertanyaannya, apakah para pemuda bisa membangun bangsa ini dengan mulai membangun diri kita sendiri dengan segala nilai yang terkandung dalam lambang negara kita tersebut?
Pemuda pada masa ini, sudah seharusnya dan sepatutnya melanjutkan perjuangan untuk pembangunan bangsa. Memang, negara ini telah dibangun secara lebih baik dibanding masa lalu. Dari segi ekonomi, budaya, pendidikan, dan berbagai bidang lainnya. Dan pada realitanya, memang semakin banyak pemuda bangsa yang berkontribusi dalam pembangunan bangsa dari aspek ekonomi, pendidikan, pemberdayaan budaya lokal, dan masih banyak lagi. Tapi, yang harus digarisbawahi, saat ini kebanyakan pemuda mempunyai sebuah pemikiran bahwasanya pembangunan bangsa terpusat pada bidang ekonomi. Well, itu sah-sah saja, harus diakui bahwa ekonomi memberikan peran sangat sentral dalam pembangunan sebuah bangsa. Namun ada sebuah hal yang mesti diingat, bahwa dibalik pembangunan kondisi ekonomi bangsa yang terus berkembang, para pemuda harus memberikan kontribusi dan inovasi tiada henti untuk tetap memberikan sebuah kestabilan bagi bangsa itu sendiri. Di situlah diperlukan mentalitas, dalam pencapaian tujuan pribadi maupun tujuan bangsa.
Tapi apakah nilai-nilai pancasila sudah tidak relevan dengan perkembangan dunia yang sangat dinamis? Tentu saja tidak, Pancasila memiliki nilai kandungan yang universal dan kontemporer.
Apakah kita bangga memiliki Pancasila sebagai dasar negara kita? Semoga saja jawaban kita adalah “IYA”. Setiap pemuda mempunyai cara yang berbeda dalam membanggakan bangsanya. Kita bisa mengambil contoh dari hal yang paling kecil saja, yaitu penggunaan bahasa Indonesia dalam pergaulan di dalam negeri saja dulu. Atau mungkin jika harus membandingkan, tak ada salahnya kita  mewarisi watak bangsa yang pernah menjajah kita, yaitu Jepang. Mereka bangga akan atas segala yang menjadi budaya dan produk mereka, mereka menerapkan dumping bagi produk dalam negeri mereka. Tapi lihatlah yang terjadi, produk dari negara itu merajai pasar di negerinya, sungguh luar biasa. Lalu, tidakkah kita malu melihat sebuah bangsa yang telah kita kalahkan, ternyata lebih baik dalam kebanggan dan kepedulian terhadap apa yang menjadi kepunyaannya. Lantas, bisakah kita seperti pemuda Jepang, setidaknya dalam mencurahkan perhatian terhadap bangsa kita saja.
Apakah kebanggan itu diperlukan walaupun berlebihan, jawabannya tergantung dari masing-masing orang memandangnya. Kebanggan muncul karena ada kepedulian yang muncul dari dalam diri. Kepedulian biasanya muncul karena adanya rasa cinta yang mendalam terhadap sesuatu yang diberikan rasa kepedulian itu. Kita bisa mencontoh sosok Dahlan Iskan ataupun Joko Widodo. Mereka begitu mencintai segala hal yang berhubungan dengan nilai-nilai yang menjadi ciri khas Indonesia. Lihatlah bagaimana seorang Joko Widodo yang begitu antusias untuk mengembangkan sistem ekonomi gotong royong, dimana pihak yang mampu membantu pihak yang kurang mampu dalam hal permodalan dan hal lainnya, ini bisa dilihat dari kepedulian Jokowi Widodo pada pedagang pasar tradisional daripada pedagang pasar modern. Gebrakan lain dari Joko Widodo bisa dilihat bagaimana ia menolak pembangunan pusat perbelanjaan modern hingga sempat “bersitegang” dengan Bibit Waluyo demi terjaganya cagar budaya, yaitu pabrik es Sari Petojo. Sedangkan Dahlan Iskan yang tidak ragu untuk berinovasi dengan kebijakan “1 juta sambungan sehari” sehari setelah ia dilantik menjadi menteri BUMN, dan juga hasrat darinya yang menginginkan adanya konversi BBM ke BBG, yang mana hasratnya itu sudah menemui titik terang dengan telah di-launching-nya mobil berbahan bakar gas, walaupun belum ada izin resmi untuk menjualnya di pasaran, tapi setidaknya ia telah peduli terhadap karya bangsanya sendiri. Intinya, kita tidak bisa memunculkan sikap bangga jika kita sama sekali tidak peduli terhadap segala hal yang ada di sekitar kita.
Apakah kedua sosok inspiratif tersebut tidak mampu menggugah hasrat pemuda untuk membakar hasrat yang telah lama padam dalam hatinya. Jika tidak, marilah kita mencari sosok yang dapat membakar hasrat kita. Tapi semua itu balik kepada diri masing-masing, sejauh apa kita mampu mempertahankan hasrat kita.
Darimana kita bisa mendapatkan atau menemukan hasrat tersebut? Hasrat untuk membangun bangsa ini. Hasrat untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini. Ya, setiap hasrat individu berbeda, karna tujuan hidup pun berbeda. Hasrat terlahir dari antusiasme yang ada dalam diri kita. Antusiasme yang merupakan bahasa serapan, terbentuk dari bahasa latin “En-Theos” yang berarti “God in us” atau bisa diartikan Tuhan dalam diri kita. Membentuk suatu hasrat untuk membangun bangsa ini tidaklah sulit, tetapi hal itu hanya berlaku bagi yang bersungguh-sungguh untuk menemukannya (hasrat).  Yakinlah hasrat itu akan datang, dan semoga hasrat itu sesuai dengan nilai yang tertanam dalam bangsa ini, karena jika terjadi sebuah kesamaan hasrat dan nilai kebangsaan, maka setiap tindakan yang akan diambil pastilah sesuai dengan cita-cita yang ingin dicapai oleh pendiri dan pejuang bangsa ini.
Kebanggaan pada bangsa sendiri tidaklah memalukan, walaupun bangsa tersebut memiliki banyak masalah, mulai dari kehilangan jati dirinya hingga segala kerusakan terjadi dalam tubuhnya, tetapi kita harus meyakini bahwa itu adalah ujian, dan Tuhan menjanjikan “hadiah” bagi yang bisa melewati ujian secara tegar. “Hadiah” itu adalah, memberikan sebuah kekuatan untuk menghadapi ujian berikutnya. Jangan pernah padamkan hasrat untuk membangun bangsa ini pemuda garuda, karena hasrat kita akan membawa bangsa ini menjadi “macan yang bebas dari kandangnya”, mengaum layaknya dahulu kala. Jangan pernah pula berhenti bermimpi, karena suatu saat mimpi itu akan membawa kita pada sebuah kenyataan yang berjalan sesuai dengan hasrat yang kita miliki selama ini.

“Nilai adalah kumpulan jati diri, niat dan pedoman terbaik yang bisa dipikirkan oleh masing-masing orang”  -Kazuo Inamori-

0 komentar:

Posting Komentar

Alamat Sekretariat:Jl. Pawiro Kuwat 187 B(Selatan Kampus FE UII) Condong Catur,Sleman Yogyakarta Indonesia
 
;